Categories
Search

Macam metode dan Model pembelajaran :)

Beberapa macam metode pengajaran dan pengertiannya :

a. Metode ceramah

Yang dimaksud dengan ceramah ialah penerangan dan penuturan secara lisan oleh guru terhadap kelas. Dalam pelaksanaan ceramah untuk menjelaskan uraiannya, guru dapat menggunakan alat-alat bantu seperti gambar-gambar. Tetapi metode utama berhubungan dengan siswa adalah berbicara.

Peranan murid dalam metode ceramah adalah mendengarkan dengan teliti serta mencatat pokok pentingnya yang dikemukakan oleh guru.

Ceramah wajar dipergunakan :

  1. Apabila guru akan menyampaikan fakta atau pendapat dimana tidak terdapat bahan bacaan yang merangkum fakta atau pendapat yang dimaksud.
  2. Apabila guru harus menyampaikan fakta pada siswa yang besar jumlahnya dan karena besarnya kelompok maka metode-metode lain tidak mungkin dipergunakan.
  3. Apabila guru adalah pembicara yang semangat dan akan merangsang siswa untuk melaksanakan sesuatu pekerjaan.
  4. Apabila guru akan menyimpulkan pokok yang penting yang telah dipelajari oleh siswa untuk memungkinkan siswa-siswa melihat lebih jelas hubungan yang satu dengan yang lain.
  5. Apakah guru yang akan memperkenalkan pokok baru dalam rangka pelajaran yang lalu.

Keuntungannya :

-         Guru dapat menguasai seluruh arah kelas

-         Organisasi kelas adalah sederhana

Kerugiannya :

-         Guru tidak dapat mengetahui sampai dimana siswa telah mengerti yang telah dibicarakan

-         Pada siswa dapat terbentuk konsep yang lain daripada kata-kata yang dimaksudkan oleh guru tersebut.

Bagaimana mempersiapkan ceramah yang efektif :

  1. Rumuskan tujuan khusus yang hendak dipelajari oleh siswa
  2. Setelah menetapkan tujuan, hendaklah diselidiki apakah metode ceramah benar-benar merupakan metode yang sangat pada tempatnya
  3. Susun bahan ceramah yang benar-benar perlu diceramahkan
  4. Pengertian yang dapat dijelaskan dengan alat atau dengan uraian yang tertentu harus ditetapkan sebelumnya
  5. Tangkaplah perhatian siswa dan arahkan pada pokok yang akan diceramahkan
  6. Kemudian usahakan menanam pengertian yang jelas. Hal ini biasa dilaksanakan dengan melalui beberapa jalan, misalnya :

b. Metode Tanya Jawab

Pada metode tanya jawab, guru pada umumnya berusaha menanyakan apakah siswa telah mengetahui fakta tertentu yang sudah diajarkan. Pada metode diskusi, pertanyaan guru lebih diarahkan untuk merangsang siswa mempergunakan fakta yang lebih kompleks. Pertanyaan tidak bersifat faktuil, dan jawabannya tidak mutlak / tunggal.

Penggunaannya ditujukan untuk :

-         Meninjau pelajaran yang lalu, menangkap perhatian siswa

-         Memimpin pengamatan dan pemikiran siswa

Kebaikan metode tanya jawab :

-         Sambutan kelas

-         Memberi kesempatan pada siswa untuk mengemukakan hal-hal yang belum jelas

-         Mengetahui perbedaan pendapat antara siswa dan guru

Kelemahan metode tanya jawab :

-         Menimbulkan penyimpangan dari pokok persoalan

-         Menimbulkan pokok persoalan baru

Langkah-langkah metode tanya jawab :

  1. Merumuskan tujuan sejelasnya dalam bentuk khusus berpusat pada tingkah laku siswa
  2. Mencari alasan mengapa mempergunakan metode tanya jawab
  3. Menetapkan kemungkinan jawaban pertanyaan itu apakah mengandung banyak masalah / hanya terbatas pada jawaban ya atau tidak
  4. Menetapkan kemungkinan jawaban untuk menjaga agar tidak menyimpang daripada persoalan c. Metode Diskusi

Suatu metode yang digunakan apabila menemukan persoalan – persoalan/ masalah-masalah yang tidak dapat dipecahkan hanya dengan satu jawaban atau satu cara saja dan perlu menggunakan banyak pengetahuan dan macam-macam cara pemecahan dan mencari jalan yang terbaik serta pembahasannya memerlukan lebih dari dua orang, yakni masalah-masalah yang memerlukan kerjasama dengan musyawarah.

Pertanyaan yang layak didiskusikan adalah pertanyaan yang bersifat :

  1. Menarik minat siswa yang sesuai dengan tarafnya dan mempunyai kemungkinan-kemungkinan jawaban lebih dari sebuah yang dapat dipertahankan kebenarannya
  2. Mengutamakan hal yang mempertimbangkan dan membandingkan.Kebaikannya :

-         Mempertinggi partisipasi siswa secara individual

-         Mempertinggi partisipasi kelas secara luas

Kelemahan :

-         Sulit bagi guru untuk meramalkan arah penyelesaian diskusi

-         Sulit bagi siswa untuk mengatur secara berpikir ilmiah

Peran guru dan pemimpin diskusi :

  1. Pemimpin sebagai pengatur ”lalu lintas”. Bertujuan untuk mengumpulkan pendapat dari tiap orang
  2. Pemimpin sebagai dinding penangkis. Senantiasa menerima pertanyaan-pertanyaan dari para peserta dan dipantulkan kembali kepada kelompok
  3. Pemimpin sebagai penunjuk jalan. Memberi petunjuk-petunjuk umum mengenai kemajuan-kemajuan diskusi

Langkah-langkah pedoman menuntun diskusi antara lain :

  1. Apakah masalah atau perihal yang dihadapi
  2. Soal-soal penting manakah terdapat dalam masalah itu
  3. Tindakan-tindakan apakah yang sudah direncanakan dan siapa yang melaksanakan
  4. Hal apakah dan yang manakah telah diterima oleh suara terbanyak sebagai persetujuan

d. Metode Demonstrasi

Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pembelajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan. Manfaat psikologis dari metode demonstrasi adalah

-         Perhatian siswa dapat lebih dipusatkan

-         Proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari

-         Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri siswa

Kelebihan metode demonstrasi sebagai berikut

- Membantu anak didik memahami dengan jelas jalannya suatu proses atau kerja suatu benda.

- Memudahkan berbagai jenis penjelasan

- Kesalahan- kesalahan yang terjadi dapat diperbaiki melalui pengamatan dan contoh konkret,dengan menghadirkan objek sebenarnya.

Kelebihan metode demonstrasi adalah anak didik terkadang sukar melihat dengan jelas benda yang akan dipertunjukkan, kurangnya pemahaman siswa tentang kegunaan benda yang dipertunjukkan.

Metode demonstrasi dapat dilaksanakan manakala:

  • Kegiatan pembelajaran bersifat  normal, magang atau latihan bekerja
  • Bila materi pelajaran berbentuk  keterampilan  gerak
  • Guru, pelatih , instruktur bermaksud menyederhanakan penyelesaian kegiatan yang panjang
  • Pengajar bermaksud menunjukkan suatu standar penampilan
  • Untuk menumbuhkan motivasi  siswa tentang latihan/ praktik yang kita  laksanakan
  • Untuk mengurangi kesalahan-kesalahan
  • Bila  beberapa masalah yang menimbulkan  pertanyaan  pada siswa dapat dijawab lebih teliti waktu proses demonstrasi

Batas-batas metode ini  adalah :

  • Demonstrasi  merupakan metode yang tidak wajar bila alat didemonsasikan tidak dapat diamati dengan seksama oleh siswa
  • Demonstrasi  menjadi kurang  efektif bila tidak diikuti  dengan  sebuah aktivitas dimana  para  siswa sendiri dapat  ikut  bereksperimen dan menjadikan aktifitas itu pengalaman pribadi
  • Tidak semua hal dapat didemonstrasikan di dalam kelompok
  • Kadang-kadang bila suatu alat dibawa ke dalam kelas kemudian didemonstrasikan, terjadi proses yang berlainan dengan proses  dalam situasi  nyata
  • Jika setiap orang diminta mendemonstrasikan maka dapat menyita waktu yang banyak dan membosankan bagi peserta lainnya. e. Metode karyawisata/ pengalaman lapangan

Metode karyawisata adalah metode mengajar yang dirancang terlebih dahulu oleh pendidik dan diharapkan siswa membuat laporan dan didiskusikan bersama dengan peserta didik yang lain serta didampingi oleh pendidik, yang kemudian dibukukan.

Kelebihannya :

-         Karyawisata menerapkan prinsip pengajaran modern yang memanfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran

-         Membuat bahan yang dipelajari di sekolah menjadi lebih relevan dengan kenyataan dan kebutuhan yang ada di masyarakat

-         Pengajaran dapat lebih merangsang kreativitas anak

Kekurangannya :

-         Memerlukan persiapan yang melibatkan banyak pihak

-         Memerlukan perencanaan dengan persiapan yang matang

-         Dalam karyawisata sering unsur rekreasi menjadi prioritas daripada tujuan utama,sedangkan unsur studinya terabaikan

-         Memerlukan pengawasan yang lebih ketat terhadap setiap gerak-gerik anak didik di lapangan

-         Biayanya cukup mahal

-         Memerlukan tanggung jawab guru dan sekolah atas kelancaran dan keselamatan anak didik

Agar penggunaan teknik karya wisata dapat efektif, maka pelaksanaannya perlu memeperhatikan langkah-langkah sebagai berikut: (a) Persiapan, dimana guru perlu menetapkan tujuan pembelajaran dengan jelas, mempertimbangkan pemilihan teknik, menghubungi pemimpin obyek yang akan dikunjungi untuk merundingkan segala sesuatunya, penyusunan rencana yang masak, membagi tugas-tugas, mempersiapkan sarana, pembagian siswa dalam kelompok, serta mengirim utusan, (b) Pelaksanaan karya wisata, dimana pemimpin rombongan mengatur segalanya dibantu petugas-petugas lainnya, memenuhi tata tertib yang telah ditentukan bersama, mengawasi petugas-petugas pada setiap seksi, demikian pula tugas-tugas kelompok sesuai dengan tanggungjawabnya, serta memberi petunjuk bila perlu, (c) Akhir karya wisata, pada waktu itu siswa mengadakan diskusi mengenai segala hal hasil karya wisata, menyusun laporan atau paper yang memuat kesimpulan yang diperoleh, menindaklanjuti hasil kegiatan karya wisata seperti membuat grafik, gambar, model-model, dan lainnya.

Karena itulah teknik karya wisata dapat disimpulkan memiliki keunggulan sebagai berikut: (a) Siswa dapat berpartisispasi dalam berbagai kegiatan yang dilakukan oleh para petugas pada obyek karya wisata itu, serta mengalami dan menghayati langsung apa pekerjaan mereka. Hal mana tidak mungkin diperoleh disekolah, sehingga kesempatan tersebut dapat mengembangkan bakat khusus atau ketrampilan mereka, (b) Siswa dapat melihat berbagai kegiatan para petugas secara individu maupun secara kelompok dan dihayati secara langsung yang akan memperdalam dan memperluas pengalaman mereka, (c) dalam kesempatan ini siswa dapat bertanya jawab, menemukan sumber informasi yang pertama untuk memecahkan segala persoalan yang dihadapi, sehingga mungkin mereka menemukan bukti kebenaran teorinya, atau mencobakan teorinya ke dalam praktek, (d) Dengan obyek yang ditinjau itu siswa dapat memperoleh bermacam-macam pengetahuan dan pengalaman yang terintegrasi, yang tidak terpisah-pisah dan terpadu.

Penggunaan teknik karya wisata ini masih juga ada keterbatasan yang perlu diperhatikan atau diatasi agar pelaksanaan teknik ini dapat berhasil guna dan berdaya guna, ialah sebagai berikut: Karya wisata biasanya dilakukan di luar sekolah, sehingga mungkin jarak tempat itu sangat jauh di luar sekolah, maka perlu mempergunakan transportasi, dan hal itu pasti memerlukan biaya yang besar. Juga pasti menggunakan waktu yang lebih panjang daripada jam sekolah, maka jangan sampai mengganggu kelancaran rencana pelajaran yang lain. Biaya yang tinggi kadang-kadang tidak terjangkau oleh siswa maka perlu bantuan dari sekolah. Bila tempatnya jauh, maka guru perlu memikirkan segi keamanan, kemampuan pihak siswa untuk menempuh jarak tersebut, perlu dijelaskan adanya aturan yang berlaku khusus di proyek ataupun hal-hal yang berbahaya.

Suhardjono (2004:85) mengungkapkan bahwa metode karya wisata (field-trip) memiliki keuntungan: (a) Memberikan informasi teknis, kepada peserta secara langsung, (b) Memberikan kesempatan untuk melihat kegiatan dan praktik dalam kenyataan atau pelaksanaan yang sebenarnya, (c) Memberikan kesempatan untuk lebih menghayati apa yang dipelajari sehingga lebih berhasil, (d) membei kesempatan kepada peserta untuk melihat dimana peserta ditunjukkan kepada perkembangan teknologi mutakhir.

Sedangkan kekurangan metode Field Trip menurut Suhardjono (2004:85) adalah: (a) Memakan waktu bila lokasi yang dikunjungi jauh dari pusat latihan, (b) Kadang-kadang sulit untuk mendapat ijin dari pimpinan kerja atau kantor yang akan dikunjungi, (c) Biaya transportasi dan akomodasi mahal. Menurut Djamarah (2002:105), pada saat belajar mengajar siswa perlu diajak ke luar sekolah, untuk meninjau tempat tertentu atau obyek yang lain. Hal itu bukan sekedar rekreasi tetapi untuk belajar atau memperdalam pelajarannya dengan melihat kenyataannya. Karena itu, dikatakan teknik karya wisata, yang merupakan cara mengajar yang dilaksanakan dengan mengajak siswa ke suatu tempat atau obyek tertentu di luar sekolah untuk mempelajari atau menyelidiki sesuatu seperti meninjau pegadaian. Banyak istilah yang dipergunakan pada metode karya wisata ini, seperti widya wisata, study tour, dan sebagainya. Karya wisata ada yang dalam waktu singkat, dan ada pula yang dalam waktu beberapa hari atau waktu panjang. Metode karya wisata mempunyai beberapa kelebihan yaitu: (a) Karya wisata memiliki prinsip pengajaran modern yang memanfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran, (b) Membuat apa yang dipelajari di sekolah lebih relevan dengan kenyataan dan kebutuhan di masyarakat, (c) Pengajaran serupa ini dapat lebih merangsang kreativitas siswa, (d) Informasi sebagai bahan pelajaran lebih luas dan aktual.Kekurangan metode karya wisata adalah: (a) Fasilitas yang diperlukan dan biaya yang diperlukan sulit untuk disediakan oleh siswa atau sekolah, (b) Sangat memerlukan persiapan dan perencanaan yang matang, (c) memerlukan koordinasi dengan guru-guru bidang studi lain agar tidak terjadi tumpang tindih waktu dan kegiatan selama karya wisata, (d) dalam karya wisata sering unsure rekreasi menjadi lebih prioritas daripada tujuan utama, sedang unsure studinya menjadi terabaikan, (e) Sulit mengatur siswa yang banyak dalam perjalanan dan mengarahkan mereka kepada kegiatan studi yang menjadi permasalahan.

Metode field trip atau karya wisata menurut Mulyasa (2005:112) merupakan suatu perjalanan atau pesiar yang dilakukan oleh peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar, terutama pengalaman langsung dan merupakan bagian integral dari kurikulum sekolah. Meskipun karya wisata memiliki banyak hal yang bersifat non akademis, tujuan umum pendidikan dapat segera dicapai, terutama berkaitan dengan pengembangan wawasan pengalaman tentang dunia luar. Sebelum karya wisata digunakan dan dikembangkan sebagai metode pembelajaran, hal-hal yang perlu diperhatikan menurut Mulyasa (2005:112) adalah: (a) Menentukan sumber-sumber masyarakat sebagai sumber belajar mengajar, (b) Mengamati kesesuaian sumber belajar dengan tujuan dan program sekolah, (c) Menganalisis sumber belajar berdasarkan nilai-nilai paedagogis, (d) Menghubungkan sumber belajar dengan kurikulum, apakah sumber-sumber belajar dalam karyawisata menunjang dan sesuai dengan tuntutan kurikulum, jika ya, karya wisata dapat dilaksanakan, (e) membuat dan mengembangkan program karya wisata secara logis, dan sistematis, (f) Melaksanakan karya wisata sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, dengan memperhatikan tujuan pembelajaran, materi pelajaran, efek pembelajaran, serta iklim yang kondusif. (g) Menganalisis apakah tujuan karya wisata telah tercapai atau tidak, apakah terdapat kesulitan-kesulitan perjalanan atau kunjungan, memberikan surat ucapan terima kasih kepada mereka yang telah membantu, membuat laporan karyawisata dan catatan untuk bahan karya wisata yang akan datang.

f. Metode Penugasan

Pembelajaran dengan menggunakan metode penugasan berarti guru memberi tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Tugas yang diberikan guru dapat berupa masalah yang harus dipecahkan dan prosedurnya tidak diberitahukan. Metode penugasan ini dapat mengembangkan kemandirian siswa, merangsang untuk belajar lebih banyak, membina disiplin dan tanggung jawab siswa, dan membina kebiasaan mencari dan mengolah sendiri informasi. Kekurangan metode ini terletak pada sulitnya mengawasi mengenai kemungkinan siswa tidak bekerja secara mandiri.

Metode penugasan adalah metode penyajian bahan dimanaguru memberikan tugas tertent agar siswa melakukan kegiatan belajar Ada langkah-langkah yang harus diikuti dalam penggunaan metode tugas, yaitu :

1. Fase pemberian tugas

Tugas yang diberikan kepada siswa hendaknya mempertimbangkan:

a. Tujuan yang akan dicapai

b. Jenis tugas yang jelas dan tepat sehingga anak mengerti apa yang ditugaskan tersebut

c. Sesuai dengan kemampuan siswa

d. Ada petunjuk / sunber yang dapat membantu pekerjaan siswa

e. Sediakan waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas tersebut

2. Langkah Pelaksanaan Tugas

a. Diberikan bimbingan /pengawasan oleh guru

b. Diberikan dorongan sehingga anak mau bekerja.

c. Diusahakan /dikerjakan oleh siswa sendiri, tidak menyuruh orang lain

d. Dianjurkan agar siswa mencatat hasil-hasil yang ia peroleh dengan baik dan sistematik

3. Fase mempertanggungjawabkan Tugas

a. Laporan siswa baik lisan/tertulis dari apa yang telah dikerjakannya.

b. Ada tanya jawab/diskusi kelas

c. Penilaian hasil pekerjaan siswa baik dengan tes maupaun nontes atau cara lain

Kekurangan Metode Penugasan :

a. Siswa sulit dikontrol, apakah benar ia yang mengerjakan tugas ataukah orang lain

b. Khusus untuk tugas kelompok , tidk jarang aktif mengerjakan dan menyelesaikannya adalah anggota tertentu saja, sedangkan anggota lainnya tidak berpartisipasi dengan baik.

c. Tidak mudah memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan individu siswa

d. Sering memberikan tugas yang monoton ( tak bervariasi ) dapat menimbulkan kebosanan siswa

Kelebihan Metode Penugasan :

a. Lebih merangsang siswa dalam melakukan aktivitas belajar individual ataupun kelompok

b. Dapat mengembangkan kemandirian siswa di luar pengawasan guru

c. Dapat membina tanggung jawab dan disiplin siswa

d. Dapat mengembangkan kreativitas siswa.

g. Metode Eksperimen Laboratorium

Eksperimen adalah cara penyajian pelajaran di mana siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari. Dalam proses pembelajaran melalui eksperimen siswa diberi kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri, mengikuti suatu proses,mengamati suatu objek, menganalisis, membuktikan dan menarik kesimpulansendiri tentang suatu objek, keadaan atau proses tertentu.

Langkah-langkah Pelaksanaan

1) Persiapan Eksperimen

Terdapat beberapa hal yang harus dilakukan dalam melaksanakan eksperimen,yakni:

a) Tentukan dan rumuskan tujuan eksperimen dengan jelas dan terukur. Tujuan yang jelas dan terukur, bukan hanya dapat membangkitkan motivasi belajar siswa akan tetapi juga dapat berfungsi sebagai petunjuk untuk melakukan eksperimen.

b) Persiapkan alat dan bahan yang diperlukan untuk melakukan eksperimen. Kalau seandainya di sekolah bahan dan alat yang diperlukan tidak sesuai dengan jumlah siswa, guru dapat melakukan eksperimen dengan mengelompokkan siswa. Untuk alat dan bahan yang memiliki resiko tinggi, siswa perlu memahaminya dengan baik untuk menghindari kesalahan dalam penggunaannya. Untuk itu, sebaiknya pada setiap alat dan bahan dirumuskan cara dan prosedur menggunakannya secara lengkap.

c) Memberikan penjelasan secukupnya tentang prosedur atau langkah-langkah melakukan eksperimen. Guru perlu memahami benar bagaimana prosedur melaksanakan suatu kegiatan eksperimen. Prosedur melaksanakaneksperimen sebaiknya disusun dalam bentuk pedoman sehingga dapat dipelajari siswa.

d) Seandainya ada hal-hal khusus terdapat di laboratorium, siswa perlu memahaminyadengan benar. Oleh karena itu di dalam laboratorium perlu ada petunjuk yang jelas, termasuk petunjuk tentang prosedur keselamatan kerja.

2) Pelaksanaan Eksperimen

Setelah semua dipersiapkan, termasuk apa yang seharusnya dilakukan siswa dalam mengadakan eksperimen, kegiatan selanjutnya siswa memulai pelaksanaan eksperimen. Ada beberapa hal sebagai petunjuk dalam melaksanakan pembelajaran melalui eksperimen.

a) Guru jangan terlalu terlibat dalam pelaksanaan ekspeimen.

b) Biarkan siswa memperoleh pengalamannya sendiri, mencari dan menemukan serta bekerja sendiri. Seandainya ada kesulitan, guru tidak secara langsung memecahkan kesulitan tersebut, akan tetapi hanya memberikan petunjuk-petunjuk data bantuan seperlunya.

c) Seandainya eksperimen dilakukan secara kelompok, guru harus mengatur agar setiap orang dapat terlibat. Biasanya eksperimen dilakukan oleh siswa yang pintar saja, sedangkan siswa yang kurang cenderung pasif. Oleh karena itu guru perlu mengatur susunan kelompok beserta tanggung jawab setiap kelompok.

d) Dalam setiap tahapan guru perlu melakukan kontrol. Hal ini dimaksudkan bukan hanya untuk mencek pelaksanaan eksperimen untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi, akan tetapi juga untuk memberikan bantuan manakala diperlukan.

3) Tindak Lanjut

Tindak lanjut adalah kegiatan penutupan eksperimen. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan dalam kegiatan ini diantaranya:

a) Siswa memeriksa segala peralatan yang digunakan dalam eksperimen, kemudian mnyimpannya seperti posisi semula.

b) Siswa melaporkan hasil eksperimen kepada guru untuk dianalisis, kemudian diberikan umpan balik..

c)Secara bersama-sama siswa mendiskusikan temuan-temuan atau masalah- masalah yang muncul dari hasil kerjanya.

h. Metode Bermain peran / simulasi

Bermain peran pada prinsipnya merupakan metode untuk ‘menghadirkan’ peran-peran yang ada dalam dunia nyata ke dalam suatu ‘pertunjukan peran’ di dalam kelas/pertemuan, yang kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar peserta memberikan penilaian terhadap . Misalnya: menilai keunggulan maupun kelemahan masing-masing peran tersebut, dan kemudian memberikan saran/ alternatif pendapat bagi pengembangan peran-peran tersebut. Metode ini lebih menekankan terhadap masalah yang diangkat dalam ‘pertunjukan’, dan bukan pada kemampuan pemain dalam melakukan permainan peran.Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan metode ini adalah:

  • Penentuan topik
  • Penentuan anggota pemeran
  • Pembuatan lembar kerja
  • Latihan singkat dialog
  • Pelaksanaan pemainan peran

Metode simulasi adalah bentuk metode praktek yang sifatnya untuk mengembangkan ketermpilan peserta belajar (keterampilan mental maupun fisik/teknis). Metode ini memindahkan suatu situasi yang nyata ke dalam kegiatan atau ruang belajar karena adanya kesulitan untuk melakukan praktek di dalam situasi yang sesungguhnya. Misalnya: sebelum melakukan praktek penerbangan, seorang siswa sekolah penerbangan melakukan simulasi penerbangan terlebih dahulu (belum benar-benar terbang). Situasi yang dihadapi dalam simulasi ini harus dibuat seperti benar-benar merupakan keadaan yang sebenarnya (replikasi kenyataan).Contoh lainnya, dalam sebuah pelatihan fasilitasi, seorang peserta melakukan simulasi suatu metode belajar seakan-akan tengah melakukannya bersama kelompok dampingannya. Pendamping lainnya berperan sebagai kelompok dampingan yang benar-benar akan ditemui dalam keseharian peserta (ibu tani, bapak tani, pengurus kelompok, dsb.). Dalam contoh yang kedua, metode ini memang mirip dengan bermain peran. Tetapi dalam simulasi, peserta lebih banyak berperan sebagai dirinya sendiri saatmelakukan suatu kegiatan/tugas yang benar-benar akan dilakukannya.

Model Pembelajaran Kooperatif (cooperative learning)

Pembelajaran kooperatif telah dikembangkan secara intensif melalui berbagai penelitian, tujuannya untuk meningkatkan kerjasama akademik antar mahasiswa, membentuk hubungan positif, mengembangkan rasa percaya diri, serta meningkatkan kemampuan akademik melalui aktivitas kelompok. Dalam pembelajaran kooperatif terdapat saling ketergantungan positif di antara mahasiswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Setiap mahasiswa mempunyai kesempatan yang sama untuk sukses. Aktivitas belajar berpusat pada mahasiswa dalam bentuk diskusi, mengerjakan tugas bersama, saling membantu dan saling mendukung dalam memecahkan masalah. Melalui interaksi belajar yang efektif mahasiswa lebih termotivasi, percaya diri, mampu menggunakan strategi berpikir tingkat tinggi, serta mampu membangun hubungan interpersonal. Model pembelajaran kooperatif memungkinkan semua mahasiswa dapat menguasai materi pada tingkat penguasaan yang relatif sama atau sejajar. Ada 4 macam model pembelajaran kooperatif yang dikemukakan oleh Arends (2001),yaitu;

(1) Student Teams Achievement Division (STAD),

(2) Group Investigation,

(3)Jigsaw, dan

(4) Structural Approach.

Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif adalah;

(1) belajar bersama dengan teman,

(2)selama proses belajar terjadi tatap muka antar teman,

(3) saling mendengarkan pendapatdi antara anggota kelompok,

(4) belajar dari teman sendiri dalam kelompok,

(5) belajardalam kelompok kecil,

(6) produktif berbicara atau saling mengemukakan pendapat,

(7)keputusan tergantung pada mahasiswa sendiri, (8) mahasiswa aktif

Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

STAD dikembangkan oleh Robert Slavin, dimana STAD merupakan pendekatan kooperatif yang sederhana. Kinerja guru yang mengunakan STAD mengacu pada belajar kelompok, menyajikan informasiakademik baru pada siswa dengan menggunakan prosentase verbal atau tes.Pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe STAD dilaksanakan dalam beberapa tahap: persiapan, presentsi pelajaran, evaluasi, penghargaan kelompok, menghitung ulang skor awal dan mengubah kelompok. Penjelasan dari langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah sebagai berikut:

a. Persiapan

1. Materi

Materi pelajaran dipersiapkan untuk pembelajaran secara kelompok yang disajikan dengan lembar kerja siswa (LKS) dan lembar jawaban yang akan dipelajari oleh siswa dalam kelompok kecil.

2. Menetapkan siswa dalam kelompok

Siswa-siswa dalam kelas di kelompokkan menjadi beberapa kelompok yang terdiri empat sampai lima orang yang memiliki latar belakang dan tingkat prestasi akademik yang berbeda.Beberapa petunjuk membentuk kelompok kooperatif:

a Merangking siswa berdasarkan prestasi akademik dalam kelas.

b Menentukan jumlah kelompok dan tiap kelompok terdiri dari empat sampai lima orang

c Membagi kelompok dengan komposisi tingkat prestasi yang seimbang.

3. Menentukan skor awal

Skor awal ini merupakan skor rata-rata siswa individual pada semester sebelumnya/tes sebelumnya.

b. Tahap pembelajaran

Tahap pembelajaran kooperatif tipe STAD dimulai dengan kegiatan guru mempersiapkan materi pelajaran. Kemudian dilanjutkan dengan penyajian informasi baik secara verbal ataupun dalam bentuk tes. Selanjutnya siswa diorganisasikan dalam kelompok-kelompok belajar untuk bersama-sama menyelesaikan tugas atau LKS.

c. Evaluasi

Evaluasi yang dilakukan dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD meliputi evaluasi dilakukan setelah siswa selesai melaksanakan,kegiatan pembelajaran, siswa harus menunjukkan apa yang telah dipelajari dalam kelompok. Hasil tes individu menjadi dasar skor kelompok dan akhirnya menjadi dasar pemberian penghargaan. (Hartati 1998 : 11-12)

Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigastion

Metode investigasi kelompok sering dipandang sebagai metode yang paling kompleks dan paling sulit untuk dilaksanakan dalam pembelajaran kooperatif. Metode ini melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Metode ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam ketrampilan proses kelompok (group process skills). Para guru yang menggunakan metode investigasi kelompok umumnya membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5 hingga 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen. Pembagian kelompok dapat juga didasarkan atas kesenangan berteman atau kesamaan minat terhadap suatu topik tertentu. Para siswa memilih topik yang ingin dipelajari, mengikuti investigasi mendalam terhadap berbagai subtopik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan dan menyajikan suatu laporan di depan kelas secara keseluruhan. Adapun deskripsi mengenai langkah-langkah metode investigasi kelompok dapat dikemukakan sebagai berikut:

a. Seleksi topik

Parasiswa memilih berbagai subtopik dalam suatu wilayah masalah umum yang biasanya digambarkan lebih dahulu oleh guru. Para siswa selanjutnya diorganisasikan menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi pada tugas (task oriented groups) yang beranggotakan 2 hingga 6 orang. Komposisi kelompok heterogen baik dalam jenis kelamin, etnik maupun kemampuan akademik.

b. Merencanakan kerjasama

Parasiswa beserta guru merencanakan berbagai prosedur belajar khusus, tugas dan tujuan umum yang konsisten dengan berbagai topik dan subtopik yang telah dipilih dari langkah a) di atas.

c. Implementasi

Parasiswa melaksanakan rencana yang telah dirumuskan pada langkah b). Pembelajaran harus melibatkan berbagai aktivitas dan ketrampilan dengan variasi yang luas dan mendorong para siswa untuk menggunakan berbagai sumber baik yang terdapat di dalam maupun di luar sekolah. Guru secara terus-menerus mengikuti kemajuan tiap kelompok dan memberikan bantuan jika diperlukan.

d. Analisis dan sintesis

Parasiswa menganalisis dan mensintesis berbagai informasi yang diperoleh pada langkah c) dan merencanakan agar dapat diringkaskan dalam suatu penyajian yang menarik di depan kelas.

e. Penyajian hasil akhir

Semua kelompok menyajikan suatu presentasi yang menarik dari berbagai topik yang telah dipelajari agar semua siswa dalam kelas saling terlibat dan mencapai suatu perspektif yang luas mengenai topik tersebut. Presentasi kelompok dikoordinir oleh guru.

f. Evaluasi

Guru beserta siswa melakukan evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan. Evaluasi dapat mencakup tiap siswa secara individu atau kelompok, atau keduanya.

Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

Kerangka Model pembelajaran tipe jigsaw :

I. Tahap Pendahuluan

1. Review, apersepsi, motivasi

2. Menjelaskan pada siswa tentang model pembelajaran yang dipakai dan manfaatnya

3. Pembentukan kelompok

4. Setiap kelompok terdiri dari 4-6 siswa dengan kemampuan yang heterogen

5. Pembagian materi/soal pada setiap anggota kelompok

II. Tahap Penguasaan

1. Siswa dengan materi /soal sama bergabung dalam kelompok ahli dan berusaha manguasai materi sesuai dengan soal yang diterima

2. Guru memberikan bantuan sepenuhnya

III. Tahap Penularan

1. Setiap siswa kembali ke kelompok asalnya

2. Tiap siswa dalam kelompok saling menularkan dan menerima materi dari siswa lain

3. Terjadi diskusi antar siswa dalam kelompok asal

4. Dari diskusi, siswa memperoleh jawaban soal

IV. Penutup

1. Guru bersama siswa membahas soal

2. Kuis/Evaluasi

Kelebihan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw:

1. Dapat mengembangkan hubungan antar pribadi posisif diantara siswa yang memilik kemampuan belajar berbeda

2. Menerapka bimbingan sesama teman

3. Rasa harga diri siswa yang lebih tinggi

4. Memperbaiki kehadiran

5. Penerimaan terhadap perbedaan individu lebih besar

6. Sikap apatis berkurang

7. Pemahaman materi lebih mendalam

8. Meningkatkan motivasi belajar

Kelemahan metode kooperatif jigsaw

1. Jika guru tidak meningkatkan agar siswa selalu menggunakan ketrampilan-ketrampilan kooperatif dalam kelompok masing-masing maka dikhawatirkan kelompok akan macet

2. Jika jumlah anggota kelompok kurang akan menimbulkanmasalah, misal jika ada anggota yang hanya membonceng dalam menyelesaikan tugas-tugas dan pasif dalam diskusi

3. Membutuhkan waktu yang lebih lama apalagi bila ada penataan ruang belum terkondisi dengan baik , sehingga perlu waktu merubah posisi yang dapat juga menimbulkan gaduh.

Leave a Reply